Dalam Islam kita mengenal istilah qada dan qadar, sepintas sih
sepertinya sama, tapi sebenarnya berbeda loh, qada adalah ketentuan
dari Allah yang tidak mampu untuk dipilih oleh manusia, baik itu
menerima atau menolak, contohnya adalah kematian. Sedang qadar atau
lebih familiar dengan sebutan takdir adalah ketentuan dari Allah yang
bisa dipilih oleh manusia, seperti kaya atau miskin, pintar atau
bodoh, sehat atau sakit.
Jadi jika seseorang itu bodoh janganlah menyalahkan takdir Allah,
karena itu pilihan dia mengapa ia tidak berusaha menuntut ilmu untuk
menutupi kebodohanya.
05 Mei 2012
26 April 2012
Dalil-Dalil Tentang Digerak-gerak Atau Tidaknya Telunjuk Pada Saat Tasyahud Dalam Shalat
Saat tasyahud dalam shalat kadang kita melihat sebagian jama'ah
berbeda dengan jama'ah lainnya, ada yang menggerak-gerakan telunjuknya
dan adapula yang tidak, ini tentu menjadi pertanyaan dari umat yang
mungkin masih bingung melihat hal itu. Ternyata baik yang
digerak-gerakkan telunjuknya atau pun tidak menpunyai dalil yang
sama-sama kuat. Dalil tentang jari telunjuk yang digerak-gerakkan
diambil dari sebuah hadits yang berasal dari Wa'il bin Hujr yang
menyebutkan: '' selanjutnya Beliau (Nabi saw) menduduki telapak kaki
kirinya, meletakkan telapak tangan kiri di atas paha dan lutut kirinya
dan tidak menempelkan ujung siku kanan pada pangkal paha kanan, lalu
beliau menggenggamkan dua jarinya (jari kelingking dan jari manis)
melingkarkan (ibu jari dan jari tengah) dan mengangkat jari (telunjuk)
yang aku lihat Beliau menggerak-gerakkannya sewaktu berdo'a.'' (HR.
Nasa'i).
Sedangkan dalil yang menjelaskan tentang tidak digerak-gerakkanya jari
telunjuk secara terus menerus selama tasyahud adalah hadits Abdullah
bin Zubair yang menyebutkan bahwa Nabi saw ketika berdo'a (dalam
tasyahud) beliau memberi isyarat dengan jarinya dan tidak
menggerak-gerakkanya. (HR. Abu Dawud).
Banyak ulama menyatakan kedua hadits ini shahih dan memberikan
kesimpulan pilihan, jadi yang digerak-gerakkan atau tidak
digerak-gerakkan bisa dilakukan dalam tasyahud meskipun ada pula yang
melakukan salah satunya saja berdasarkan peringkat hadits yang dinilai
lebih kuat.
berbeda dengan jama'ah lainnya, ada yang menggerak-gerakan telunjuknya
dan adapula yang tidak, ini tentu menjadi pertanyaan dari umat yang
mungkin masih bingung melihat hal itu. Ternyata baik yang
digerak-gerakkan telunjuknya atau pun tidak menpunyai dalil yang
sama-sama kuat. Dalil tentang jari telunjuk yang digerak-gerakkan
diambil dari sebuah hadits yang berasal dari Wa'il bin Hujr yang
menyebutkan: '' selanjutnya Beliau (Nabi saw) menduduki telapak kaki
kirinya, meletakkan telapak tangan kiri di atas paha dan lutut kirinya
dan tidak menempelkan ujung siku kanan pada pangkal paha kanan, lalu
beliau menggenggamkan dua jarinya (jari kelingking dan jari manis)
melingkarkan (ibu jari dan jari tengah) dan mengangkat jari (telunjuk)
yang aku lihat Beliau menggerak-gerakkannya sewaktu berdo'a.'' (HR.
Nasa'i).
Sedangkan dalil yang menjelaskan tentang tidak digerak-gerakkanya jari
telunjuk secara terus menerus selama tasyahud adalah hadits Abdullah
bin Zubair yang menyebutkan bahwa Nabi saw ketika berdo'a (dalam
tasyahud) beliau memberi isyarat dengan jarinya dan tidak
menggerak-gerakkanya. (HR. Abu Dawud).
Banyak ulama menyatakan kedua hadits ini shahih dan memberikan
kesimpulan pilihan, jadi yang digerak-gerakkan atau tidak
digerak-gerakkan bisa dilakukan dalam tasyahud meskipun ada pula yang
melakukan salah satunya saja berdasarkan peringkat hadits yang dinilai
lebih kuat.
20 April 2012
Bid'ah Fatamorgana Ibadah
Asalnya ibadah itu tidak ada, setelah adanya perintah dari Allah barulah ibadah itu tercipta, jadi selama tidak ada perintah atau hukum syari'at yang memerintahkannya kita tak perlu melakukan ibadah itu, kecuali memang ada perintah dari Allah. Konyolnya ada saja manusia yang menciptakan ibadah berdasarkan perasaannya sendiri, mereka berpikir yang penting tujuannya baik dan dipersembahkan untuk Allah, padahal sudah jelas Allah mengingatkan melalui Rasulnya bahwa barangsiapa menciptakan sesuatu yang baru atau menambah-nambah dalam ibadah maka ia telah melakukan bid'ah, dan bid'ah itu adalah perbuatan yang sesat !
05 Maret 2012
Mengangkat kedua Tangan Ketika Hendak Ruku Dalam Shalat
Saat hendak ruku dalam shalat masih banyak orang yang tidak mengangkat
tangannya sambil bertakbir tapi malah langsung menjatuhkan tangannya
di atas lutut, padahal Rasulullah saw mengangkat tangannya pada saat
hendak ruku seperti disebutkan dalam hadits Malik bin Huwairits bahwa
Nabi saw bila bertakbir (memulai shalat) beliau mengangkat kedua
tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya dan ketika HENDAK
RUKU beliau juga mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan
kedua telinganya (HR. Bukhari dan Muslim). Haditsnya lainnya dari
Abdullah bin Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah saw mengangkat
kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika (bertakbir)
memulai shalat dan bertakbir ketika hendak ruku (HR. Bukhari dan
Muslim).
tangannya sambil bertakbir tapi malah langsung menjatuhkan tangannya
di atas lutut, padahal Rasulullah saw mengangkat tangannya pada saat
hendak ruku seperti disebutkan dalam hadits Malik bin Huwairits bahwa
Nabi saw bila bertakbir (memulai shalat) beliau mengangkat kedua
tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya dan ketika HENDAK
RUKU beliau juga mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan
kedua telinganya (HR. Bukhari dan Muslim). Haditsnya lainnya dari
Abdullah bin Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah saw mengangkat
kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ketika (bertakbir)
memulai shalat dan bertakbir ketika hendak ruku (HR. Bukhari dan
Muslim).
15 Februari 2012
Gaya Dakwah Ustadz-Ustadz Selebriti
Sebagian besar ustadz-ustadz
yang berdakwah di televisi
banyak menonjolkan gaya
sebagai ciri khas, selain itu
gurauan-gurauan yang
dilontarkan pun kerap membuat
para jama'ah tertarik. Namun
gurauan dan cara
penyampaianya ini perlu disorot,
karena nilai dakwahnya menjadi
kurang gereget dan efektif
karena jama'ah lebih
mengharapkan gurauan-
gurauan dan figur sang ustadz
sebagai entertainer, materi-
materi dakwahnya pun biasanya
yang normatif dan jarang
menyentuh soal hukum-hukum
Islam.
Sebagian masyarakat pun
memberi gelar pada ustadz-
ustadz populer ini dengan
julukan ustadz selebriti !
Sungguh hal yang sangat
mengkhawatirkan, ustadz-
ustadz yang mestinya secara
profesional memberikan
tuntunan malah menjadi
tontonan !!
yang berdakwah di televisi
banyak menonjolkan gaya
sebagai ciri khas, selain itu
gurauan-gurauan yang
dilontarkan pun kerap membuat
para jama'ah tertarik. Namun
gurauan dan cara
penyampaianya ini perlu disorot,
karena nilai dakwahnya menjadi
kurang gereget dan efektif
karena jama'ah lebih
mengharapkan gurauan-
gurauan dan figur sang ustadz
sebagai entertainer, materi-
materi dakwahnya pun biasanya
yang normatif dan jarang
menyentuh soal hukum-hukum
Islam.
Sebagian masyarakat pun
memberi gelar pada ustadz-
ustadz populer ini dengan
julukan ustadz selebriti !
Sungguh hal yang sangat
mengkhawatirkan, ustadz-
ustadz yang mestinya secara
profesional memberikan
tuntunan malah menjadi
tontonan !!
Langganan:
Postingan (Atom)
