07 April 2014

Saat Wanita Dipercantik Oleh Setan

Di jaman liberal seperti sekarang ini, sudah lazim wanita sangat bebas berkeliaran keluar rumah bahkan di malam hari tanpa didampingi muhrimnya, baik yang masih perawan atau juga yang telah menikah. Efeknya berbagai peristiwa pemerkosaan, seks bebas dan perselingkuhan banyak terjadi dan itu seringkali kita dengar diberbagai macam pemberitaan di negeri ini. Setan memang senang jika ada wanita yang keluar dari rumah, ia akan membuat wanita tersebut menjadi lebih cantik di pandangan laki-laki yang bukan muhrimnya, Rasulullah pernah bersabda dalam hal ini : "Wanita adalah aurat, bila ia keluar rumah maka setan akan mengesankannya amat cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya)." (HR At Tirmizy).

Islam adalah agama yang preventif , agama yang benar-benar melindungi kaum wanita dari hal-hal yang bisa merugikanya, tidak seperti tuduhan kalangan orang-orang liberal dan kaum feminisme yang menyatakan Islam mengekang kebebasan kaum wanita, sungguh tuduhan yang keji dan hanya menampakkan diri sebagai orang yang tidak mau berpikir.

Fenomena Politik Pencitraan Oleh Media

Di era teknologi informasi sekarang ini ada sebuah fenomena dalam dunia politik, yaitu politik pencitraan, mass media adalah sarana yang paling ampuh dalam menciptakan sebuah pencitraan.
Cara- cara yang dilakukanpun kadang terlihat konyol, contohnya, hampir setiap langkah dan tindakan tokoh yang dicitrakan akan selalu diberitakan dari makan sampai menalikan sepatunya, wah bisa-bisa tokoh yang dicitrakan itu masuk toilet untuk buang air pun dijadikan berita hehehe..
tapi bisa jadi pemberitaan konyol seperti itu cukup berpengaruh, maklum sebagian besar masyarakat Indonesia itu kan mudah terpesona dan ujung-ujungnya mudah kecewa juga hehe..

Pemberitaan seperti itu tentu tidak edukatif, karena seharusnya masyarakat yang akan memilih tokoh politik untuk dijadikan pemimpin tersebut diberi pemberitaan tentang visi dan misi tokoh politik tersebut. Nah bila pemberitaan yang sifatnya konyol dan tak banyak artinya itu kerap dilakukan, tentu menjadi tanda tanya, ada apa dengan media? Adakah sebuah rekayasa untuk menggiring opini publik pada calon tertentu? Hal itu mungkin saja terjadi.

19 Maret 2014

Jangan Mudah Digiring Oleh Opini Media Mainstream

Peran media baik cetak, elektronik maupun online sangatlah besar pengaruhnya dalam membentuk opini publik, namun media-media tersebut tidaklah obyektif dalam menyampaikan berita, karena mereka tidak hanya mencari keuntungan tapi juga punya misi. Baik misi politik atau misi ideologi. Inilah yang harus diwaspadai! Konten berita atau opini mereka akan menyudutkankan lawan politik atau lawan ideologinya. Sementara untuk memuluskan misinya. Mereka akan membuat pencitraan dengan berita yang masif, intensif dan sistematis melalui sosok-sosok pilihan atau peristiwa-peristiwa fenomenal. Sosok-sosok pilihan tentu saja orang yang ideologinya sama atau jika tidak sama ya minimal orang yang sangat toleran. yang mudah diberi imbalan berupa uang, popularitas dan kekuasaan. Mengenai peristiwa-peristiwapun sama, jika hal negatif menimpa lawan politik dan ideologinya maka berita keburukan itu akan diberitakan selebar-lebarnya bahkan diperluas sampai keluar substansinya, namun jika hal negatif itu menimpa orang seideologi atau sepaham dalam politik maka akan diberitakan sesedikit mungkin atau kalo bisa malah ditutupin. Sebaliknya jika hal positif dilakukan oleh lawan politik dan ideologinya, maka akan diberitakan secara singkat dan alakadarnya bahkan tak jarang dilewat saja tidak diberitakan, sementara jika hal positif dilakukan oleh orang yang seideologi maka akan diberitakan sebesar-besarnya dan dikupas habis bahkan disanjung-sanjung setinggi langit. Mending kalau hal positif itu benar. Gimana coba kalo rekayasa??
Selain konten berita yang harus sejalan dengan kehendak sang pemilik media, bisa saja konten berita atau opini itu adalah pesanan dari orang atau sekelompok orang yang mempunyai finansial yang kuat untuk memuluskan misi politik dan ideologinya.
Jadi kesimpulannya janganlah mudah terprovokasi oleh media, jangan langsung percaya saat menerima berita, carilah berita dari sumber yang berbeda lalu dikomparasi dan dikaji dengan matang. Dan yang paling penting kita harus tahu siapa pemilik medianya, apa ideologinya agar kita bisa lebih waspada dan teliti saat menerima berita yang datang.

03 Maret 2014

Tempo, Media Liberal Yang Patut Diwaspadai

Media yang bersifat liberal di Indonesia seringkali menyudutkan Islam dalam pemberitaanya, salah satu yang menonjol di antaranya adalah Tempo. Dari dulu media ini sangat hoby dan antusias kala memberitakan isu-isu yang terkait dengan Islam, lalu menyudutkannya dengan pandangan yang negatif. Yang terbaru adalah pemberitaan mengenai sertifikat halal dan tuduhan terhadap Ketua MUI Amidhan yang diberitakan dapat bayaran dari Halal Food Council of Europe (HFCE) , namun semua itu terbantahkan, dalam surat
resminya pada tanggal 24-2-2014 lalu, HFCE menyatakan laporan Majalah Tempo itu tidak benar! Amidhan dengan sukarela memberi masukan soal sertifikasi halal.

Maka dari itu kaum muslim harus waspada terhadap pemberitaan media liberal seperti majalah tempo ini, jangan mudah percaya sebelum terbukti kebenaranya, karena pemberitaannya lebih cenderung subyektif dan menyudutkan Islam.

20 Februari 2014

Pembatalan Polwan Berjilbab

Jelas pembatalan rencana.penggunaan jilbab polwan oleh Kapolri adalah sesuatu yang aneh dan dzolim, meskipun Indonesia bukan Negara Islam namun faktanya muslim di Indonesia adalah mayoritas, jadi sungguh terlalu jika ada polwan yang ingin menggunakan jilbab tapi dilarang, padahal mereka juga ingin menjalankan syariat Islam agama yang dipeluknya selain mengabdi juga pada negara.

Jangankan dari sudut pandang Islam yang jelas-jelas mewajibkan wanita untuk berjilbab, dari sudut pandang demokrasi yang dianut negeri ini saja sudah terasa janggal. Karena hak seseorang untuk menjalankan agamanya telah dipasung oleh peraturan instansi kepolisian.