04 Juli 2014

Makin Mantap Untuk Pilih Capres Nomor Satu

Di kubu calon presiden Prabowo memang ada yang sekuler dan liberal, tapi di kubu capres Jokowi lebih banyak lagi. Ini alasan kenapa sebagai muslim aku lebih memilih pasangan Capres-cawapres no 1 atau Prabowo-Hatta.
Di kubu Jokowi terlalu banyak orang-orang yang cenderung benci sama Islam baik dari kalangan jendral Purnawirawan, aktivis, Ormas dan LSMnya. Secara ideologis aku berbeda dan ga suka sama Luhut Panjaitan, Hendropriyono, Musdah Mulia, Adian Napitupulu, Fazrul Rachman, Jalaludin Rachmat, Ade armando, Budiman Sujatmiko, Anis Baswedan, Zuhairi Misrawi, Rieke Diah Pitaloka, Dahlan Iskan, Wimar Witoelar, Butet dan orang2 liberal dan sekuler lainnya. Belum lagi medianya seperti Metro TV, Kompas, Tribun, Berita Satu, Tempo dll yang selalu nyinyir kepada Islam. Jadi kini sudah jelas mana yang hitam dan mana yang putih, jadi semakin mantap untuk pilih capres nomor satu! walau Prabowo bukan pilihan idealku tapi menurutku masih lebih baik dari kubu Jokowi jika melihat dukungan orang-orang di belakangnya.

13 Juni 2014

Kenapa Pilih Prabowo

Setiap orang tertentu punya pilihan, termasuk dalam memilih sosok pemimpin. Dalam pilpres tahun 2014 ini ada dua capres yaitu Prabowo dan Jokowi yang otomatis hanya ada dua pilihan, mereka berdua tentu punya keunggulan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Setelah melihat dan menimbang dinamika politik dari Mulai pileg sampai kampanye saat ini. akhirnya pilihanku jatuh pada sosok Prabowo. Alasannya, Prabowo lebih apa adanya, lebih jujur, bukan polesan, mandiri dan akhir-akhir ini ternyata lebih santun! Selain beliau tentunya memiliki karakter yang lebih tegas dari kompetitornya. Dan yang terpenting, para pendukung Prabowo didominasi kalangan umat Islam yang sesuai dengan agama yang aku anut. Mungkin ada yang berpendapat jangan bawa-bawa agama dalam politik, ya terserah itu pendapat mereka, karena bagi saya politik dan agama itu saling berkaitan.

Sementara jika lihat di kubu Jokowi hampir semua pendukungnya itu tidak sepaham dengan pemikiranku, dari partai sampai tokoh-tokohnya. Ada PDIP, partai yang kerapkali menjegal RUU dan Perda Syariat dan jika Jokowi menang bahkan akan menghapusnya, ada orang-orang liberal, ada orang-orang Syi'ah, ada jendral seperti Luhut Panjaitan dan AM Hendropriyono, caleg-caleg non muslim yang dominan, para aktivis yang nyinyir kayak Fajroel rachman dan adian napitupulu bahkan ada juga para pengusung LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual dan Transgender).
Aku tidak terpengaruh dengan kampanye hitam yang menyerang kubu Jokowi, karena pertimbanganku bukan dari kampanye hitam tapi hal-hal di atas tersebutlah yang menjadi jawaban mengapa kemungkinan besar nanti aku pilih Prabowo.

08 Juni 2014

Hindari Pemimpin Yang Munafik

Dalam dunia politik bohong menjadi hal yang biasa, dengan santai dan seolah-olah tak berdosa mereka ingkari janji yang telah diucapkan. Dalam Islam orang-orang yang ingkar janji adalah ciri orang munafik, seperti ditegaskan dalam Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda : "Ada empat sifat yang bila dimiliki maka pemiliknya adalah munafik murni. Dan barang siapa yang memiliki salah satu di antara empat tersebut, itu berarti ia telah menyimpan satu tabiat munafik sampai ia tinggalkan. Apabila berbicara ia berbohong, apabila bersepakat ia berkhianat, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila bertikai ia berbuat curang. [HR Muslim]. Kemudian dalam Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَAda tiga tanda orang munafik; apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat. (HR Muslim).

Masyarakat terutama umat muslim harus teliti dan waspada kala hendak memilih pemimpin, lihatlah! Apakah ia seorang yang amanah dan teguh memegang janjinya, jangan sampai kita dipimpin oleh orang yang munafik! Sulit memang di negeri ini ada politikus yang teguh dan amanah dalam memimpin rakyatnya, namun setidaknya kita dapat memilih yang madhorotnya lebih kecil. Selain kita melihat sosok pemimpin yang kita pilih, maka perlu juga melihat siapa saja pendukung di belakangnya, karena para pendukung calon pemimpin itu akan mempengaruhi kebijakan dan keputusan sang pemimpin kelak.

08 Mei 2014

Tentang Capres Jokowi

Hmm.., menurutku sih sosok calon presiden yang paling mengemuka akhir-akhir ini di berbagai media yakni Joko Widodo terlalu dibesar-besarkan, padahal sih biasa-biasa saja seperti elit politik lainnya. Disebut bersih belum tentu juga, hampir semua capres yang maju ada boroknya. Jokowi cuma kesayangan media nasional, citranya dipositifkan dan dibesar-besarkan, padahal mimpin Jakarta aja belum teruji, eh malah nekad ingkari janji untuk tidak nyapres, payahh !

Ga perlu ikut-ikutan menyudutkan Jokowi dengan isu-isu korupsinya saat menjabat walikota Solo, soalnya hal itu belum tentu benar dan juga belum tentu salah, itu mah urusan elit-elit dan para penegak hukum. Aku sih sederhana saja, Indonesia butuh pemimpin yang amanah, yang teguh akan janjinya, sayangnya Jokowi pun tak jauh berbeda dengan elit politik lainnya, mudah berjanji dan mudah mengingkari. Demi kekuasaan yang lebih tinggi ia ingkari janji memimpin Jakarta selama lima tahun. Janji itu tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat yang dipimpinnya, tapi juga pada Tuhan yang menciptakannya.

11 April 2014

Mencermati Ngawurnya Lembaga-Lembaga Survei

Setelah menyimak hasil quick count pemilihan umum legislatif 2014 ternyata hasil yang diperoleh sangat kontradiktif dengan apa yang dirilis atau diprediksi oleh lembaga-lembaga survei pada saat sebelum pemilu. Pertama, secara bombastis berbagai lembaga survei menyatakan PDIP akan menang dengan perolehan suara sekitar 35 Persen karena Jokowi efek setelah Joko widodo ditetapkan sebagai capres dari PDIP, tapi ternyata hasil yang didapat melalui quick count suara PDIP hanya mencapai 19 Persen lebih. Walau menang, tapi hasil ini sepertinya tidak terlalu menggembirakan bagi kader-kader PDIP karena tidak sesuai ekspektasi Jumlah suara 27 persen.

Kedua, beberapa lembaga survei menyatakan bahwa Jumlah suara partai-partai Islam tidak akan mencapai angka 3,5 persen atau tidak akan lolos Parliamentary Threshold sebagai tiket ke senayan. Hasil survei sebelum pemilu legislatif 9 April dari lembaga survey yang dinilai memiliki kredibilitas menempatkan partai partai Islam pada posisi buncit dengan perolehan suara PKB 3,7 %,
PPP 3,6%, PAN 3,3 %, PKS 2,2 %, PBB 0,7 % (Survey Lingkaran Survei Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 2,9% yang dilakukan Januari 2014). Bahkan sejak Juli 2012 CSIS sudah merilis dengan
hasil sebagai berikut PPP 3,0 %, PKB 2,8 %, PKS 2,2 %, PAN 2,0%.( Survei Juli 2012 dengan confidence level 95% dan Margin of error 2.55%). Begitu juga yang dilakukan Saeful Mujani Research and Consulting
(SMRC) yang dirilis februari 2013 memprediksi PKS terjun bebas dengan perolehan suara 2,7
% (Survei yang dirilis Maret 2013 dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 3%).
Tapi lagi-lagi hasil survei lembaga-lembaga tersebut ngawur! Partai-partai Islam kecuali mungkin PBB malah mendapat suara cukup bagus di atas 6 Persen.
Nah pertanyaannya ada apa dengan lembaga-lembaga survei tersebut? Apakah mereka salah dalam menerapkan metodelogi atau mereka dibayar untuk menyudutkan agar partai-partai Islam terdegradasi dari Senayan? Jika lembaga-lembaga survei tersebut adalah lembaga bayaran untuk menyudutkan, sungguh sangat terlalu! Mereka layak dipanggil dengan sebutan "pelacur intelektual" karena rela menggadaikan ilmu akademisinya demi kepentingan politik dan keuntungan finansial.